Apa Itu Arsitektur Lansekap? Mari Berkenalan Lebih Dekat!

Saat menerima brosur informasi kuliah, tak sedikit merasa kebingungan dengan daftar jurusan yang ditawarkan oleh suatu perguruan tinggi. Salah satunya adalah Jurusan Arsitektur Lansekap. Mungkin Jurusan Arsitektur sudah umum terdengar, tetapi tidak dengan Arsitektur Lansekap. Jadi apa itu lansekap dan apa beda arsitektur lansekap dengan arsitektur itu sendiri?

Di luar negeri, istilah apa itu lansekap sudah banyak dikenal luas. Profesi sebagai arsitek lansekap pun bahkan dipandang mentereng. Akan tetapi kondisi tersebut berbeda dengan yang ada di Indonesia. Menjadi seorang arsitek lansekap harus siap untuk mendapat pertanyaan bertubi tentang apa saja yang dikerjakan dan kenapa membuat ‘taman’ saja harus direncanakan dengan matang.

Pengertian Tentang Apa Itu Lansekap

Arsitektur Lansekap (Landscape) merupakan salah satu cabang ilmu dalam desain perencanaan ruang, yang dikhususkan pada area ruang terbuka. Secara mudahnya, jika arsitek pada umumnya merencanakan pembangunan sebuah bangunan, maka lansekap adalah pengisi bagian yang tidak dibangun. Ruang lingkup lansekap sendiri tidak berhenti pada mengisi ruang terbuka di antara bangunan-bangunan.

Lebih luas lagi, lansekap juga mendesain landmark dari suatu lokasi hingga public space. Perencanaannya pun tidak bisa sembarangan, sebab harus mempertimbangkan banyak faktor pendukung lokasinya itu sendiri. Terkait dengan kondisi lingkungan sekitar, hingga kebudayaan serta sosial masyarakat setempat. Penjelasan ini pun belum sepenuhnya dapat menjawab tentang apa itu lansekap.

Hal tersebut dikarenakan, ruang lingkup studi lansekap sangat luas. Tidak hanya berkutat dengan rancang bangun dan arsitektur, melainkan juga harus memahami tentang holtikultura, sosiologi, seni rupa, ilmu tanah, dan masih banyak lagi. Belum lagi perlu dipahami dari sisi psikologis mengenai tujuan mengenai perencanaan dan pembangunan lansekap yang dilakukan.

Teori-teori mengenai lansekap sendiri mulai populer sekitar abad ke-18. Masyarakat Eropa kala itu tergila-gila dengan memamerkan keindahan, termasuk keindahan taman. Istilah lansekap sendiri dulunya lebih dikenal sebagai landscape gardening, sebelum kemudian beralih menjadi arsitektur lansekap. Konsep perencanaan taman-taman ini utamanya adalah sebagai penghias rumah-rumah manor, kastil, istana, kediaman para bangsawan, hingga kompleks gereja.

Baru kemudian pada abad ke-19, Frederick Law Olmsted dan Andrew Jackson Downing mempopulerkan profesi sebagai arsitek lansekap di Amerika Serikat. Olmsted dengan bangga menyebut dirinya sebagai seorang arsitek lansekap. Sementara itu Downing merupakan tokoh dibalik berdirinya organisasi pertama para arsitek lansekap di Amerika Serikat. Barulah setelah itu, pengertian apa itu lansekap pun semakin dikenal luas.

Arsitektur Lansekap dan Hubungannya dengan Urban Planning

Setelah mengetahui secara singkat apa itu lansekap, selanjutnya mari mencari tahu hubungan lansekap dan urban planning. Sekitar masa revolusi industri – baik di Eropa maupun Amerika, kota-kota seakan semakin tidak tertata. Inilah yang kemudian menjadi perhatian serius, sebab jumlah gedung dan bangunan semakin bertambah, sementara ruang terbuka semakin minim. Di sinilah fungsi dari arsitektur lansekap digunakan untuk mengisi kekosongan, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Kota Tak Semuanya Terbangun

Hal pertama yang menjadi perhatian serius di kala itu adalah, minimnya penataan ruang terbuka, khususnya di kota-kota besar. New York misalnya, yang sejak abad ke-18 menjadi the dream city bagi para imigran, memiliki sudut-sudut kumuh yang tak terurus. Inilah yang memunculkan keprihatinan bagi para arsitek di masa itu.

Mereka beranggapan, bahwa sebuah kota haruslah direncanakan dan ditata dengan sebaik mungkin. Dengan begitu, kota dapat memberikan fungsi yang optimal bagi penduduknya. Akan tetapi, banyak arsitek yang lupa, bahwa kota tidak hanya bisa diisi dengan bangunan. Ada ruang-ruang kosong di antara bangunan-bangunan yang mereka bangun, sehingga perlulah penataan yang lebih menyeluruh. Di sinilah mulai muncul kepahaman akan pentingnya urban planning.

Di dalam urban planning yang multidisiplin, dibutuhkan satu pendekatan khusus untuk penataan ruang terbuka. Saat itulah arsitektur lansekap mendapatkan tempat untuk unjuk kebolehan. Olmsted berhasil meyakinkan khalayak akan gelar profesi yang disandangnya dengan desain ruang terbuka di New York, yang salah satunya adalah Central Park.

2. Sudut Penghias Kota

Tak sedikit yang memandang bahwa profesi sebagai seorang arsitek lansekap kurang elit, terlebih jika dibandingkan dengan arsitek murni. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak hasil kerja dari para arsitek lansekap yang justru lebih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dibandingkan dengan sebuah bangunan.

Misalnya saja seperti Central Park yang telah disebutkan sebelumnya. Sebuah taman hijau berada di tengah-tengah Manhattan, bagian tersibuk yang ada di New York. Tak hanya berbicara mengenai oksigen yang turut menyuplai kebutuhan para manusia supersibuk di sana, melainkan juga sebagai titik untuk rehat dari kesibukan. Sebuah pemandangan hijau di tengah kepungan beton, itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkannya.

Di Indonesia sendiri, Surabaya dianggap berhasil menciptakan kota yang ramah terhadap penduduknya. Keberadaan banyak taman-taman kota seperti Taman Bungkul, Taman Flora, dan lain sebagainya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para warga yang tinggal di sana. Terlebih lagi, yang bisa memanfaatkan pun jauh lebih luas, sebab itu adalah sebuah ruang terbuka yang diperuntukkan untuk umum.

3. Memanusiakan Manusia

Dalam urban planning, obyek utama dari perencanaan adalah manusia yang tinggal di kota tersebut. Baik untuk gedung yang dibangun serta fasilitas lain yang disediakan. Intinya semuanya dicukupi demi memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sayangnya, konsep tersebut belum sepenuhnya bisa tercapai saat setiap bangunan yang dibangun memiliki fungsi khusus masing-masing.

Sebuah sekolah dibangun hanya untuk menampung para murid untuk belajar atau rumah sakit yang dibangun sebagai sebuah pelayanan kesehatan. Belum lagi gedung-gedung yang fungsinya lebih khusus, seperti misalnya gedung perkantoran. Bagaimana nasib manusia yang tidak memiliki kepentingan dari fungsi-fungsi khusus yang ada.

Inilah yang coba dijawab oleh arsitektur lansekap. Bahwa arsitektur lansekap bisa mendesain ruang-ruang di antara bangunan-bangunan yang ada di kota untuk dapat berfungsi bagi semua orang. Tak ada syarat khusus bagi seseorang untuk bisa datang ke sebuah taman – misalnya.

4. Kebutuhan 30% Green Space

Menyadari akan pentingnya ruang terbuka, pemerintah pun menerbitkan peraturan khusus mengenai hal ini. Melalui UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan aturan khusus bahwa setiap kota wajib menyediakan 30% ruang terbuka hijau di dalam kotanya. Secara lebih terperinci lagi disebutkan, bahwa prosentase tersebut terdiri dari 20% publik (disediakan pemerintah) dan 10% privat (disediakan swasta).

Aturan ini jelas menjadi peluang bagi para arsitek lansekap untuk mengaplikasikan ilmu dan keahlian yang dimiliki. Dengan begitu, keberadaan ruang terbuka yang ada dapat dioptimalkan fungsinya dengan perencanaan yang matang.

Pertanyaan akan apa itu lansekap memang dapat dijelaskan dari berbagai sudut. Pandangan awam lebih banyak merujuk kepada istilah ‘tukang taman’. Akan tetapi, setelah melihat hubungan lansekap dengan urban planning, tentu pengertiannya lebih dari itu. Lansekap tidak hanya sebuah ilmu desain demi memuaskan hasrat manusia akan keindahan. Melainkan juga sanggup memenuhi kebutuhan dan kepentingan lahiriah manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial.

tags:

konsep taman arsitektur lansekap
Apa Itu Arsitektur Lansekap? Mari Berkenalan Lebih Dekat! | volga writer | 4.5

Leave a Reply